KESENIAN LUDRUK DI ERA MILLENIAL, BISAKAH BERTAHAN?

Seni ludruk nyaris tidak dikenal generasi kelahiran 1990-2000 an atau milenial. Nur Fauzi, yang akrab disapa Mbok Jum pelakon ludruk sekaligus founder Sanggar UmaSeni membagikan pendapat tentang kesenian ludruk yang semakin memudar di era millenial.

Ludruk merupakan seni pertunjukan yang telah menghibur banyak orang khususnya di Jawa Timur. Panggung Ludruk juga bisa menjadi sarana bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri dan menyampaikan ide, bahkan melontarkan kritik. Melalui ludruk, muncul seniman-seniman Indonesia yang ikut memperkaya seni dan melestarikan budaya di Indonesia, seperti Cak Durasim, Cak Bowo, Kartolo, termasuk Nur Fauzi ini. Namun, zaman semakin maju dan berubah, apakah keberadaan seni ludruk dapat bertahan hingga saat ini? 

Seperti yang kita ketahui, saat ini telah menjadi era modern dengan teknologi yang berkembang pesat, sehingga memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi baik di dalam negeri maupun di belahan dunia manapun. Sehingga banyak pengaruh dari luar, termasuk budaya. Budaya luar yang terlihat baru, modern dan mencolok tidak menarik perhatian masyarakat dan membuat mereka fokus pada yang baru dan melupakan yang lama, membuat keberadaan banyak budaya di tanah air Indonesia semakin ditinggalkan hingga semakin banyak yang layu bahkan di ambang kepunahan, termasuk seni ludruk. 

Menurut Nur Fauzi, ludruk terlahir dari protes masyarakat terhadap sistem yang sudah ada.

“Kalau untuk ludruk sendiri dikatakan seni tradisi itu sepertinya bisa jadi seni tradisi, bisa jadi seni modern. Karena ludruk terlahir dari protes masyarakat terhadap sistem yang sudah ada. Dikatakan seni modern karena tadi berbau protes terhadap kebijakan dan sitem yang sudah ada. Dikatakan seni tradisi, karena ludruk sendiri akrab dan dekat dengan masyarakat sehingga muatan-muatan yang ada di dalamnya. Biasanya mengandung unsur-unsur tradisi yang cukup kental. Sebetulnya ludruk sendiri itu kalo kita bilang hampir sama seperti stand up comedy karena kekuatan atau power adalah dari pemilihan kata, pemilihan materi yang disampaikan, istilahnya peralihan dari materi satu ke yang lain, dan itu kepada skill para pemain ludruk sendiri” jelasnya.

Selain itu, Nur Fauzi juga membagikan pengalamannya sedikit tentang awal mula ia bergabung di dunia ludruk.

“Awal dari saya terlibat atau masuk kedalam seni ludruk, iklim yang saya bangun sebagai perfomance art akhirnya bisa membawa saya masuk ke dimensi kesenian. Saya memilih ludruk sebagai media yang saya pikir tepat sasaran dan tepat guna dan bisa diaplikasikan di berbagai zaman, karena muatan ludruk sendiri juga sudah sangat-sangat kompleks, disitu ada musiknya, ada tarinya, ada stand up comedynya seperti itu..” ucapnya.

Penampilan Nur Fauzi di Pentas Ludruk Teater Smaraghanesa SMKN 1 Buduran Sidoarjo, 
18 Desember 2021. (Foto: qonitaamfr/blogger)

Ludruk banyak digemari oleh semua kalangan karena cerita yang dibawakan menghibur dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Namun, seiring berkembangnya zaman, kesenian ludruk semakin pudar di mata masyarakat. Begini tanggapan Nur Fauzi terhadap kecintaan masyarakat khususnya generasi milenial akan ludruk semakin memudar. Bagaimana cara Anda sebagai seniman ludruk untuk mempertahankan dan memperkenalkan kesenian ludruk kepada masyarakat agar tetap bertahan dengan budaya-budaya yang lain.

“Kalau untuk mempertahankannya sebetulnya sangat mudah, yang susah adalah konsistensi untuk mempertahankan, atau konsistensi dari para pelakunya ya, kalau untuk mempertahankan.. kita bilang nggak, nggak akan pudar kemakan zaman, justru malah kita harusnya terbantu dengan teknologi yang semakin maju dalam menyebarluaskan atau memasyarakatkan ludruk, harusnya.” Tutup Nur Fauzi dalam wawancara, Selasa (28/3/2023).

Komentar